← Semua artikelKesehatan Kaki

Anak Suka Berjalan Jinjit Terus? Ini Sebab & Kapan Waspada

Langkah bahagia si kecil bersama SyaluLangkah bahagia si kecil bersama Syalu🛍️ Belanja →

Berjalan Jinjit pada Anak: Umum tapi Sering Bikin Bunda Bingung

Saat anak mulai lancar berjalan, sebagian bunda memperhatikan kebiasaan yang menarik: si kecil sering berjalan dengan bertumpu pada ujung jari kaki, tanpa menapakkan tumit ke lantai. Kebiasaan ini dikenal sebagai berjalan jinjit atau toe walking.

Kabar baiknya, pada banyak anak balita kebiasaan ini adalah hal yang wajar dan biasanya menghilang seiring bertambahnya usia. Namun ada juga situasi tertentu yang perlu perhatian lebih. Yuk, kita pahami bersama.

Mengapa Anak Berjalan Jinjit?

Ada beberapa alasan yang membuat anak lebih suka bertumpu pada ujung kaki:

  • Kebiasaan (habitual toe walking). Ini yang paling sering. Anak sekadar terbiasa jalan seperti itu tanpa ada masalah medis. Ketika diminta, ia biasanya masih bisa menapakkan tumit dengan normal.
  • Masih dalam tahap belajar. Di usia 1–2 tahun, anak sedang bereksperimen dengan keseimbangan dan cara berjalan. Jinjit sesekali adalah bagian dari proses.
  • Sensasi di telapak kaki. Beberapa anak berjalan jinjit karena tidak nyaman dengan tekstur lantai tertentu — misalnya lantai dingin, kasar, atau rumput.
  • Meniru atau bermain. Anak sering meniru gaya jalan tokoh kartun, menari, atau sekadar merasa jinjit itu "seru".
  • Otot betis yang cenderung kencang. Pada sebagian anak, otot dan tendon di belakang betis (tendon Achilles) terasa lebih rapat sehingga tumit sulit menyentuh lantai.

Kapan Berjalan Jinjit Biasanya Menghilang?

Secara umum, banyak anak berhenti berjalan jinjit dengan sendirinya menjelang usia 2 tahun, seiring pola jalan yang makin matang. Sebagian masih melakukannya sesekali hingga usia sekolah awal, dan tetap bisa berjalan normal saat diminta.

Selama anak:

  • Tumbuh dan berkembang sesuai usia,
  • Bisa menapakkan kaki penuh saat diminta,
  • Tidak mengeluh nyeri, dan
  • Aktif bermain seperti biasa,

maka kebiasaan jinjit umumnya tidak perlu dikhawatirkan berlebihan.

Tanda yang Perlu Bunda Perhatikan

Meski sering tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang sebaiknya dikonsultasikan ke dokter anak atau tenaga medis. Perhatikan bila anak menunjukkan:

  • Selalu jinjit dan tampak sulit atau tidak bisa menapakkan tumit ke lantai sama sekali.
  • Berjalan jinjit masih berlanjut setelah usia 2–3 tahun tanpa berkurang.
  • Betis terasa kaku, atau anak mengeluh kaki/tungkai terasa tegang.
  • Disertai keterlambatan bicara, gerakan, atau interaksi sosial.
  • Anak sering terjatuh, tampak kurang seimbang, atau kaku pada satu sisi tubuh.
  • Kebiasaan jinjit muncul tiba-tiba padahal sebelumnya berjalan normal.

Catatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar Bunda tahu kapan sebaiknya mencari pendapat ahli. Pemeriksaan sederhana oleh dokter biasanya cukup untuk memberi ketenangan.

Yang Bisa Bunda Lakukan di Rumah

Untuk anak yang sehat dan berjalan jinjit karena kebiasaan, beberapa hal ringan berikut bisa membantu:

  • Ajak main sambil menapak penuh. Permainan seperti berjalan meniru gajah, berjongkok, atau naik-turun tangga membantu melatih tumit menyentuh lantai.
  • Beri kesempatan jalan tanpa alas kaki di permukaan aman. Merasakan tekstur lantai membantu anak terbiasa menapak seluruh kaki.
  • Peregangan lembut betis — misalnya sambil bermain, dorong kaki perlahan agar tumit menyentuh lantai. Lakukan tanpa memaksa dan hentikan bila anak tidak nyaman.
  • Jangan sering menegur berlebihan. Terlalu banyak dikomentari justru bisa membuat anak stres atau makin melakukannya.

Peran Sepatu yang Tepat

Sepatu yang cocok bisa mendukung pola jalan anak menjadi lebih stabil. Pilih sepatu dengan sol yang cukup fleksibel agar kaki bebas menekuk secara alami, tumit yang tidak terlalu tinggi, serta ukuran yang pas — tidak sempit maupun kebesaran. Sepatu anak yang ringan dan mendukung gerak alami, seperti koleksi dari Syalu, dapat membantu si kecil nyaman melangkah dan menapak dengan seluruh telapak kaki. Namun ingat, sepatu bukan "obat" untuk kebiasaan jinjit; ia hanya pendukung.

Kesimpulan

Berjalan jinjit pada balita sebagian besar adalah hal yang normal dan akan berkurang dengan sendirinya seiring tumbuh kembang. Selama anak masih bisa menapak penuh saat diminta, aktif, dan tidak mengeluh nyeri, Bunda tak perlu terlalu khawatir.

Yang penting adalah tetap mengamati perkembangannya. Bila jinjit terus menetap setelah usia 2–3 tahun, disertai kaki yang kaku, keterlambatan perkembangan, atau anak tak bisa menurunkan tumit sama sekali, sebaiknya konsultasikan ke dokter anak. Dengan pengamatan yang penuh kasih dan langkah yang tepat, Bunda sudah memberikan dukungan terbaik untuk setiap langkah kecil si buah hati.

#berjalan jinjit#toe walking#tumbuh kembang anak#perkembangan kaki#balita#kesehatan kaki anak
Butuh sepatu atau sandal untuk si kecil?

Koleksi Syalu — ringan, aman & anti-selip untuk anak aktif.