← Semua artikelKesehatan Kaki

Anak Sering Berjinjit Saat Berjalan Padahal Sudah Lancar?

Langkah bahagia si kecil bersama SyaluLangkah bahagia si kecil bersama Syalu🛍️ Belanja →

Kenapa Anak Suka Berjalan Berjinjit?

Pernahkah Bunda memperhatikan si kecil berjalan dengan tumit terangkat, hanya bertumpu pada ujung-ujung jari kaki? Kebiasaan ini disebut toe walking atau berjalan berjinjit. Pada anak usia di bawah 2 tahun, hal ini sangat umum dan biasanya merupakan bagian dari proses belajar berjalan.

Saat anak baru menguasai keseimbangan, berjinjit bisa jadi cara mereka mengeksplorasi gerakan dan mencari sensasi baru. Banyak balita yang bergantian antara jalan normal dan berjinjit tanpa ada masalah apa pun. Namun, bila kebiasaan ini masih menetap setelah usia 3 tahun atau anak hampir selalu berjinjit, ada baiknya Bunda mulai memperhatikan lebih saksama.

Penyebab Umum Anak Berjinjit

Ada beberapa alasan mengapa anak terus berjalan dengan ujung jari:

  • Kebiasaan (idiopatik). Ini yang paling sering. Anak sehat, tumbuh normal, tetapi terbiasa berjinjit tanpa sebab medis yang jelas. Kadang diturunkan dalam keluarga.
  • Otot betis atau tendon Achilles yang kencang. Bila otot di belakang betis terasa kaku, anak jadi sulit menapakkan tumit ke lantai sepenuhnya.
  • Pencarian sensori (sensory seeking). Sebagian anak berjinjit karena menyukai sensasi tertentu atau merasa kurang nyaman dengan permukaan lantai tertentu.
  • Faktor kebiasaan dari alas kaki. Sepatu yang terlalu keras, berat, atau tidak pas kadang membuat anak menyesuaikan cara berjalannya.

Pada sebagian kecil kasus, toe walking bisa dikaitkan dengan kondisi perkembangan atau saraf tertentu. Karena itu, pengamatan menyeluruh terhadap tumbuh kembang anak secara keseluruhan sangat penting—bukan hanya cara ia berjalan.

Kapan Masih Wajar, Kapan Perlu Diperhatikan?

Untuk membantu Bunda membedakan, berikut tanda yang umumnya masih dianggap wajar:

  • Anak masih berusia di bawah 2–3 tahun.
  • Anak bisa berjalan datar (tumit menapak) bila diminta atau saat lupa.
  • Keseimbangan, koordinasi, dan perkembangan bicaranya baik.
  • Tidak ada keluhan nyeri.

Sebaliknya, ada baiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter anak atau fisioterapis bila menemukan hal-hal berikut:

  • Anak masih berjinjit terus-menerus setelah usia 3 tahun.
  • Anak tidak mampu menapakkan tumit ke lantai meski mencoba.
  • Betisnya terasa sangat kaku atau anak mengeluh nyeri.
  • Berjinjit disertai keterlambatan bicara, kesulitan berinteraksi, atau perkembangan motorik lain yang tertinggal.
  • Anak sebelumnya berjalan normal, lalu tiba-tiba mulai berjinjit.

Ingat, tulisan ini bersifat edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan medis. Dokter dapat menilai lebih akurat melalui pemeriksaan fisik dan riwayat tumbuh kembang.

Yang Bisa Bunda Lakukan di Rumah

Selama tidak ada tanda yang mengkhawatirkan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu anak terbiasa menapak dengan benar:

  • Ajak bermain sambil melatih tumit. Jalan menanjak ringan, naik tangga pelan, atau jongkok-berdiri bisa melatih peregangan betis secara alami.
  • Latihan peregangan lembut. Dengan arahan fisioterapis, peregangan ringan pada otot betis dapat membantu bila otot terlalu kencang. Jangan memaksa tanpa panduan ahli.
  • Beri contoh berjalan datar. Anak sering meniru. Ajak berjalan bersama sambil menekankan "tumit dulu, lalu jari".
  • Perhatikan permukaan lantai. Bila anak berjinjit karena tak suka tekstur dingin atau kasar, menyediakan permukaan yang nyaman kadang membantu.
  • Hindari menegur berlebihan. Memarahi justru bisa membuat anak cemas. Lebih baik ajak lewat permainan yang menyenangkan.

Peran Alas Kaki yang Tepat

Sepatu yang nyaman dapat mendukung cara berjalan anak yang lebih natural. Pilih sepatu dengan sol yang fleksibel namun tidak licin, ringan, dan sesuai ukuran kaki. Sepatu yang terlalu kaku atau berat bisa membuat anak kesulitan menapakkan tumit dengan nyaman.

Pastikan ada ruang sekitar satu ibu jari di ujung sepatu, dan bagian tumit tidak terlalu longgar agar kaki tidak menggelincir. Alas kaki anak dari Syalu, misalnya, dirancang ringan dan lentur agar mendukung gerak kaki si kecil tanpa membatasi. Namun, perlu diingat bahwa sepatu bukanlah "obat" untuk toe walking—sepatu hanya mendukung, sedangkan penyebab utama tetap perlu dinilai bila kebiasaan ini menetap.

Kesimpulan

Berjalan berjinjit adalah hal yang sering ditemui pada balita dan dalam banyak kasus akan hilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan. Yang penting, Bunda mengamati keseluruhan tumbuh kembang anak, bukan hanya cara ia melangkah. Bila kebiasaan ini bertahan setelah usia 3 tahun, disertai kekakuan otot, nyeri, atau keterlambatan perkembangan lain, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau fisioterapis. Dengan pengamatan yang tenang dan dukungan yang tepat, langkah kecil si kecil akan semakin mantap dari hari ke hari.

#toe walking#anak berjinjit#tumbuh kembang anak#kaki anak#postur anak#sepatu anak
Butuh sepatu atau sandal untuk si kecil?

Koleksi Syalu — ringan, aman & anti-selip untuk anak aktif.