← Semua artikelParenting

Anak Sering Menangis Saat Dipakaikan Sepatu? Ini Sebabnya

Langkah bahagia si kecil bersama SyaluLangkah bahagia si kecil bersama Syalu🛍️ Belanja →

Momen memakaikan sepatu seharusnya sederhana, tapi bagi sebagian bunda ini bisa jadi drama pagi yang melelahkan. Anak menangis, menendang, atau menarik kakinya setiap kali sepatu didekatkan. Sebelum ikut kesal, penting memahami bahwa reaksi ini hampir selalu punya alasan—dan sebagian besar bisa diatasi dengan pendekatan yang tepat.

Kenapa Anak Menolak dan Menangis?

Anak kecil belum bisa selalu menjelaskan apa yang mereka rasakan, sehingga menangis menjadi cara mereka menyampaikan ketidaknyamanan. Beberapa penyebab yang paling sering ditemui antara lain:

  • Sepatu terasa tidak nyaman. Ukuran yang kekecilan, bahan yang kaku, atau jahitan di dalam yang menekan kulit bisa membuat kaki sakit.
  • Sensasi baru yang mengganggu. Sebagian anak lebih sensitif terhadap tekanan, tekstur kaus kaki yang berkerut, atau rasa "terkurung" saat kaki tertutup rapat.
  • Kelelahan atau lapar. Anak yang mengantuk atau perutnya kosong lebih mudah rewel terhadap hal kecil, termasuk dipakaikan sepatu.
  • Ingin mandiri. Balita di usia 2–3 tahun sedang ingin melakukan segalanya sendiri. Ketika dipakaikan, mereka merasa kehilangan kontrol.
  • Asosiasi negatif. Jika sebelumnya sepatu pernah membuat kaki lecet atau proses memakainya sering terburu-buru dan tegang, anak bisa menyimpan ingatan tidak menyenangkan.

Cek Dulu Kenyamanan Sepatunya

Langkah pertama sebelum menyimpulkan anak sekadar "rewel" adalah memastikan sepatunya benar-benar pas. Coba periksa hal berikut:

  • Ruang jari. Beri jarak sekitar satu jari orang dewasa antara ujung jari terpanjang anak dan ujung sepatu.
  • Bagian dalam. Raba apakah ada label, jahitan menonjol, atau kerikil yang tertinggal.
  • Kelenturan sol. Sol yang terlalu kaku membuat kaki anak sulit menekuk secara alami dan terasa mengganjal.
  • Kaus kaki. Pastikan tidak berkerut, tidak terlalu tebal, dan jahitan ujungnya tidak menekan jari.

Memilih sepatu dengan bahan lembut dan mudah dibuka-tutup—seperti model velcro—juga membantu mengurangi rasa tertekan saat dipakai. Sepatu anak dari Syalu misalnya dirancang ringan agar kaki kecil terasa lebih bebas bergerak.

Bangun Suasana yang Menyenangkan

Anak sangat peka terhadap suasana hati orang tua. Jika bunda terburu-buru atau tegang, anak ikut merasa tertekan. Beberapa cara membuat momen ini lebih ringan:

  • Beri waktu lebih. Siapkan sepatu beberapa menit lebih awal agar tidak ada tekanan waktu.
  • Libatkan anak. Biarkan ia memilih sendiri sepatu mana yang mau dipakai hari ini. Rasa memiliki kendali menurunkan penolakan.
  • Jadikan permainan. Sebut jari-jari kakinya "anak ayam yang mau masuk rumah", atau buat suara lucu saat velcro ditutup.
  • Duduk sejajar. Berlututlah setara dengan anak, bukan menariknya dari atas. Ini terasa lebih menenangkan.

Latih Anak Terbiasa Sejak Dini

Semakin sering anak terpapar rutinitas memakai sepatu tanpa tekanan, semakin cepat ia terbiasa. Bunda bisa:

  • Membiarkan anak bermain sambil memegang sepatunya di rumah agar tidak asing.
  • Memakaikan sepatu saat suasana santai, bukan hanya saat mau buru-buru keluar.
  • Memberi pujian tulus setiap kali ia mau memakainya, sekecil apa pun kerjasamanya.

Untuk anak yang sedang ingin mandiri, ajak ia mencoba memasukkan kaki sendiri lalu bunda bantu merapikan. Rasa "aku bisa" sering kali lebih ampuh daripada bujukan.

Kapan Perlu Perhatian Lebih?

Sebagian besar penolakan terhadap sepatu adalah hal wajar dan akan berkurang seiring usia. Namun ada situasi yang sebaiknya lebih diperhatikan:

  • Anak selalu menangis kesakitan begitu berat menyentuh kaki, bukan sekadar rewel.
  • Terlihat kemerahan, lecet, atau bengkak setelah memakai sepatu.
  • Anak sangat sensitif terhadap hampir semua tekstur pakaian, bukan hanya sepatu.

Jika ada tanda nyeri yang menetap atau kaki tampak tidak nyaman meski sepatu sudah pas, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan tidak ada masalah pada kulit maupun struktur kaki.

Kesimpulan

Anak menangis saat dipakaikan sepatu bukan berarti ia "nakal". Biasanya ada penyebab konkret—entah sepatu yang tidak nyaman, suasana yang terburu-buru, atau keinginan untuk mandiri. Dengan memastikan sepatu benar-benar pas, menciptakan suasana yang tenang, dan melibatkan anak dalam prosesnya, rutinitas pagi bisa berubah dari perang kecil menjadi momen yang lebih menyenangkan. Sabar dan konsisten adalah kunci—seiring waktu, memakai sepatu akan menjadi hal biasa yang anak lakukan tanpa air mata.

#anak menangis pakai sepatu#tantrum sepatu#tips memakaikan sepatu#kenyamanan kaki anak#rutinitas anak#parenting
Butuh sepatu atau sandal untuk si kecil?

Koleksi Syalu — ringan, aman & anti-selip untuk anak aktif.