Anak Sering Berjalan dengan Jari Kaki Mengarah ke Dalam? Ini Faktanya
Langkah bahagia si kecil bersama Syalu🛍️ Belanja →Saat Kaki Anak "Membebek" ke Dalam
Pernahkah bunda memperhatikan si kecil berjalan dengan ujung jari kaki mengarah ke dalam, seolah kedua kakinya saling menghadap? Kondisi ini sering disebut in-toeing atau dalam istilah awam "kaki pigeon". Banyak orang tua langsung khawatir melihatnya, apalagi bila anak sesekali tersandung kakinya sendiri saat berlari.
Kabar baiknya, pada sebagian besar anak, in-toeing adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang dan cenderung membaik seiring waktu tanpa penanganan khusus. Mari kita pahami lebih dalam agar bunda bisa lebih tenang sekaligus tahu kapan harus waspada.
Tiga Penyebab Umum In-Toeing
Secara sederhana, jari kaki yang mengarah ke dalam bisa berasal dari tiga bagian tubuh yang berbeda:
- Kaki depan (metatarsus adductus). Bagian depan telapak kaki melengkung ke dalam. Sering terlihat sejak bayi dan berkaitan dengan posisi di dalam kandungan. Banyak kasus membaik sendiri di tahun-tahun pertama.
- Tulang kering (tibial torsion). Tulang di betis sedikit terpuntir ke dalam. Ini penyebab in-toeing yang paling sering pada balita usia 1–3 tahun dan biasanya terkoreksi seiring pertumbuhan.
- Tulang paha (femoral anteversion). Tulang paha berputar ke dalam sehingga seluruh kaki ikut menghadap ke dalam. Umum pada anak usia 3–6 tahun dan biasanya paling terlihat saat anak berlari.
Ketiganya berbeda letak, tetapi memberi tampilan serupa: ujung kaki menghadap ke dalam saat berjalan.
Mengapa Hal Ini Sering Terjadi
Tubuh anak masih dalam masa "penyempurnaan" bentuk. Saat lahir, banyak tulang belum berada pada posisi akhirnya. Seiring anak belajar berdiri, berjalan, dan menahan beban tubuh, tulang dan otot perlahan menyesuaikan diri.
Beberapa hal yang bisa memengaruhi atau membuat pola ini lebih terlihat:
- Posisi duduk W (bokong di antara kedua kaki yang menekuk ke belakang). Kebiasaan ini kerap membuat kaki lebih cenderung memutar ke dalam.
- Kebiasaan tidur tengkurap dengan kaki terlipat.
- Faktor bawaan keluarga, karena bentuk tulang bisa diturunkan.
Perlu digarisbawahi, in-toeing pada umumnya tidak menimbulkan nyeri dan tidak menghambat anak untuk aktif bermain.
Apa yang Bisa Bunda Lakukan di Rumah
Untuk sebagian besar kasus ringan, yang paling dibutuhkan adalah kesabaran dan pengamatan. Namun ada beberapa hal sederhana yang bisa membantu:
- Ajak duduk dengan posisi bersila atau kaki lurus sebagai ganti duduk W.
- Beri banyak kesempatan bermain aktif seperti berjalan, memanjat, dan berlari. Gerakan bervariasi baik untuk penguatan otot kaki.
- Pilih alas kaki yang tepat. Sepatu anak sebaiknya lentur pada bagian depan, memiliki ruang cukup untuk jari, dan tidak terlalu sempit. Sepatu tidak "menyembuhkan" in-toeing, tetapi alas kaki yang nyaman membuat anak leluasa bergerak dan melangkah dengan alami. Produk seperti Syalu yang mengutamakan kenyamanan bisa menjadi pilihan agar kaki anak tetap leluasa.
Hindari membelikan sepatu khusus "pengoreksi" atau memakaikan sepatu terbalik tanpa anjuran ahli, karena tindakan seperti ini tidak terbukti membantu dan justru bisa membuat anak tak nyaman.
Kapan Perlu Konsultasi ke Tenaga Medis
Meski umumnya tidak berbahaya, ada tanda-tanda yang sebaiknya membuat bunda memeriksakan si kecil ke dokter anak atau dokter tulang. Konsultasikan bila:
- Hanya satu kaki yang menghadap ke dalam (asimetris mencolok).
- Anak sering mengeluh nyeri atau tampak kesulitan berjalan.
- Anak sering terjatuh atau tersandung jauh lebih banyak dari teman sebayanya.
- Pola in-toeing memburuk seiring waktu, bukan membaik.
- Belum ada perbaikan setelah usia 8–9 tahun.
Dokter dapat mengamati cara jalan anak, memeriksa rentang gerak sendi, dan menentukan apakah perlu pemantauan lebih lanjut. Ingat, informasi ini bersifat umum dan bukan pengganti pemeriksaan langsung.
Menyikapinya dengan Tenang
Melihat anak berjalan dengan kaki menghadap ke dalam memang bisa membuat cemas, tetapi pada sebagian besar anak ini adalah fase yang akan berlalu. Yang terpenting, si kecil tetap aktif, tidak kesakitan, dan gembira saat bergerak.
Daripada terlalu fokus pada satu kebiasaan, bunda bisa mengarahkan energi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh: gizi yang baik, ruang bermain yang aman, dan alas kaki yang nyaman. Bila ada keraguan, jangan ragu berdiskusi dengan tenaga medis agar bunda mendapat ketenangan sekaligus arahan yang tepat.
Koleksi Syalu — ringan, aman & anti-selip untuk anak aktif.